Viral Aksi Flexing Anak, Pejabat Gayo Lues Pilih Mundur Demi Jaga Integritas

banner 468x60

Aceh | Mata Lensa Online.com

Aksi pamer gaya hidup mewah (flexing) yang diduga dilakukan anak seorang pejabat di Kabupaten Gayo Lues, Aceh, berbuntut panjang. Sorotan publik di media sosial membuat sang ayah, dr. H. Nevirizal, memutuskan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Asisten Pemerintahan, Keistimewaan Aceh, dan Kesejahteraan Rakyat (Asisten I) Sekretariat Daerah Kabupaten Gayo Lues.

Keputusan pengunduran diri tersebut disampaikan melalui surat resmi yang diajukan kepada Pemerintah Kabupaten Gayo Lues dan berlaku efektif sejak Kamis (23/7/2026). Dalam suratnya, Nevirizal menyatakan langkah tersebut diambil sebagai bentuk tanggung jawab moral sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintah.

Polemik bermula setelah akun media sosial yang diduga milik anak Nevirizal menjadi perbincangan warganet. Sejumlah unggahan memperlihatkan perjalanan ke berbagai negara, seperti Korea Selatan, Bangkok, hingga beberapa negara di Eropa. Selain itu, unggahan lain yang memperlihatkan belasan jeriken yang diklaim berisi bahan bakar minyak (BBM) turut menuai kritik dari masyarakat.

Konten-konten tersebut dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial dan memicu pertanyaan publik mengenai gaya hidup keluarga pejabat daerah. Warganet juga menyoroti sumber kekayaan yang ditampilkan dalam unggahan tersebut, meski hingga kini belum ada pernyataan resmi yang menyebut adanya pelanggaran hukum terkait unggahan tersebut.

Dalam pernyataannya, Nevirizal menegaskan bahwa pengunduran dirinya bukan karena tekanan pihak tertentu, melainkan sebagai bentuk etika dan tanggung jawab sebagai aparatur negara.

“Keputusan ini saya ambil dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab akibat munculnya perhatian publik terkait perilaku anggota keluarga saya yang menimbulkan polemik dan telah memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap institusi tempat saya mengabdi,” demikian isi pernyataannya.

Sementara itu, anak Nevirizal yang diketahui bernama Dea Arranoya juga telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Melalui surat yang diunggah di media sosial, ia mengakui kesalahan atas unggahan yang dianggap menimbulkan kegaduhan dan menyampaikan penyesalan karena berdampak pada keluarga, khususnya sang ayah yang memilih melepaskan jabatannya.

Kasus ini turut mendapat perhatian dari Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Dudung Abdurachman. Ia berharap peristiwa tersebut menjadi pelajaran bagi seluruh pejabat negara beserta keluarganya agar lebih bijak menggunakan media sosial dan menjaga kepercayaan publik.

Hingga kini belum ada proses hukum yang diumumkan terkait unggahan yang viral tersebut. Namun, peristiwa ini kembali memunculkan perbincangan mengenai pentingnya integritas pejabat publik serta kehati-hatian anggota keluarga pejabat dalam menggunakan media sosial, mengingat setiap unggahan dapat memengaruhi citra dan kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintahan. (Red)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *