
Banjar | Mata Lensa Online.com
Mie ayam menjadi salah satu kuliner yang digemari berbagai kalangan masyarakat. Namun di Kota Banjar, terdapat sajian berbeda yang mulai dikenal warga, yakni mie ayam rempah khas Banjar, yang menghadirkan perpaduan rasa gurih dengan aroma rempah yang khas dan menggugah selera.
Berbeda dengan mie ayam pada umumnya yang menggunakan kuah kaldu sederhana, mie ayam rempah khas Banjar diracik dengan tambahan berbagai bumbu tradisional seperti kayu manis, cengkeh, jahe, pala, dan ketumbar yang diolah secara seimbang. Perpaduan rempah tersebut menghasilkan aroma harum serta rasa hangat yang khas di setiap suapan.
Menurut cerita masyarakat setempat, awal mula mie ayam rempah ini muncul dari kebiasaan para pedagang kuliner di Banjar yang mencoba memadukan resep mie ayam Tionghoa dengan kekayaan bumbu Nusantara. Saat itu, para penjual ingin menciptakan cita rasa baru yang sesuai dengan lidah masyarakat Priangan yang dikenal menyukai makanan gurih dengan sentuhan rempah.
Seiring berjalannya waktu, resep tersebut terus berkembang dari generasi ke generasi. Beberapa pedagang kemudian menambahkan racikan minyak bawang khusus dan sambal cabai rawit agar rasa mie ayam semakin kuat dan berbeda dari daerah lain.
Salah seorang penjual mie ayam di Banjar mengatakan bahwa penggunaan rempah bukan hanya menambah cita rasa, tetapi juga memberikan sensasi hangat yang membuat pelanggan merasa nyaman saat menikmatinya, terutama pada malam hari atau saat cuaca dingin.
“Kalau mie ayam biasa kan gurih saja, tapi kalau pakai rempah rasanya lebih dalam dan aromanya lebih terasa. Itu yang bikin pelanggan suka kembali lagi,” ujarnya.
Kini, mie ayam rempah khas Banjar mulai menjadi salah satu kuliner yang banyak dicari, baik oleh warga lokal maupun pendatang yang ingin merasakan cita rasa berbeda dari mie ayam pada umumnya.
Selain menjadi sajian favorit masyarakat, keberadaan mie ayam rempah khas Banjar juga menjadi bukti bahwa kreativitas pelaku kuliner lokal mampu menghadirkan inovasi makanan yang tetap mempertahankan kekayaan rasa tradisional daerah. (Sel)









